Beberapa hari yang lalu ketika aku dalam perjalanan
pulang ke kota, tepatnya disuatu mobil dimana penumpangnya berdesak – desakkan,
berdempet – dempetan, kecil – besar, tua dan mudah semuanya ada disana di mobil
mikrolet yang biasa aku naikki setiap kali mau pulang kampung ataupun kembali
ke kota.
Didalam mobil tersebut ada suatu pemandangan yang
cukup menarik perhatianku, yaitu seorang bapak paruh baya yang duduk dibangku
pojok belakang, yang juga masih ada hubungan kekeluargaan dengan ayahku.
Betapa tidak aku melihat kedua jarinya diperban,
namun cara membungkusnya terlihat aneh seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Dengan penuh antusias, tanpa ragu – ragu akupun langsung menanyakan kepada
bapak tersebut tentang apa yang terjadi dengan kedua jarinya.
Saya : Pak, jarinya kenapa ? kok diperban..?
Bpk : (dengan entengnya ia pun menjawab ) Owh ini,
kedua jari bapak putus de’!!
Saya : Hah..”PUTUS” kok bisa pak ?? (dengan ekspresi
kaget dan wajah yg penuh rasa iba)
Bpk : Iya, jadi waktu bapak sedang kerja alat yang
bapak gunakan tiba – tiba rusak dan tidak sengaja mengenai tangan bapak, yang
mengakibatkan putusnya jari manis bapak, dan yang satu lagi jari kelingking terpaksa
harus dipotong karena telah hancur dan terkena infeksi.
Saya : memangnya bapak kerja dimana ?
Bpk : ditambang emas de’, lumayan jauh dari sini
kira – kira 5 hari 5 malam baru sampai, kalau menggunakan mobil.
Saya : owh, jauh juga yah pak, trus potongan jarinya
yang putus ketemu gag pak ?
Bpk : nggak de’, bpk sempat nyariin tapi gag ketemu
dan ketika itu masyarakat sekitar juga langsung membawa bapak ke rumah sakit
terdekat dari tempat kejadian.
Ya.. Allah betapa sedihnya aku melihat keadaan bapak
itu, dengan kedua jari yang telah putuspus ia masih saja tetap bisa tersenyum
dengan ramahnya, dan tak mengeluh kesakitan sedikitpun.
Owh, sekuat itukah seorang ayah yang tak pernah
ingin kelihatan lemah oleh keluarganya dan tetap selalu menjadi pengayom bagi
istri, anak dan cucu – cucunya.
Dengan keadaan yang seperti itupun iya masih mau
kembali ketempat dimana ia kehilangan kedua jarinya, untuk kembali bekerja
mencari penghidupan yang halal untuk orang – orang yang disayanginya.
Rasa cintanya terhadap keluarga mengalahkan rasa
sakit yang dideritanya. Meskipun hanya dengan 8 jari tangan yang tersisa tidak
menyulutkan semangatnya untuk tetap giat bekerja tanpa penyesalan ataupun marah
terhadap sang pencipta.
Sungguh mulianya seorang ayah, yang selalu mendahulukan
keluarganya dibanding dengan diriya sendiri, tak pernah lelah, tak berputus
asa, tak mengenal rasa sakit, tak pernah mengelu, tak ingin kelihatan lemah
meskipun usianya terus bertambah.
Ayah yang membesarkan kita, mencari nafkah untuk
keluarga dengan keringat yang setiap hari membasahi sekujur tubuhnya, ayah yang
selalu memberikan motivasi dan dorongan untuk maju kepada anak – anaknya, ayah yang selalu ingin anak –
anaknya kelak lebih baik dari kehidupannya, ayah yang selalu menyuruh ibu untuk
menanyakan kabar anak – anaknya ketika berada ditempat yang jauh, ayah yang tak
henti – hentinya memanjatkan do’a untuk kesehatan, keselamatan, kesuksesan dan
kebahagiaan orang – orang yang dicintainya.
Lantas apakah balasan kita terhadap manusia yang
mulia yang kita sebut dengan sapaan “AYAH”, haruskah kita membangkang terhadap
perkataanya, masihkah sanggup kita menyakitinya dengan ucapan/perbuatan yang
tak semestinya, tidak malukah kita terhadap perjuangannya yang tak kenal lelah.
Ayolah cukup tak lagi, saatnya untuk menyenangkan mereka atau jika belum bisa
setidaknya dengarkanlah nasihat mereka, ikutilah apa yang mereka mau….karena
tak ada orang tua yang menginginkan keburukan untuk anaknya selain kebaikan dan
kebaikan.
Saat anda mengisap sebatang rokok, ingatlah jari –
jari kedua orangtua kita, bayangkan jika rokok itu adalah jari mereka masih
sanggupkah engkau terus melakukannya.. ?
Saat anda meminum minuman keras yang jelas
terlarang, ingatlah keringat ayah dan ibu kita yang berjatuhan membasahi
sekujur tubuh keduanya, masih sanngup engkau untuk tetap melanjutkannya..?
Saat anda berdua – duaan dengan pasangan anda,
ingatlah ketika kedua orang tua kita dengan khusu’nya memanjatkan do’a untuk
keselamatan anak – anak yang sangat dicintainya…!!
Maaf bukan
maksud saya untuk menceramahi, hanya ingin saling berbagi dan mengingatkan
saja.

0 komentar:
Posting Komentar