Pagi ini saat aku baru kembali dari warung didepan
kosan aku untuk membeli makanan, aku terkejut dengan tiga panggilan tak
terjawab dan sebuah sms yang ada dalam handphoneku, karena tadi aku buru – buru
keluar jadinya aku sampai lupa untuk membawanya.
Setelah aku periksa ternyata yang barusan menelepon
itu adalah ayahku, begitupun dengan sms yang kuterimah juga berasal darinya.
Begini isi pesan singkat tersebut :
“ oya (nama kecilku),,,icha’(nama adikku, sekarang
kelas empat SD dan baru saja menyelesaikan ujian kenaikan kelas), hanya meraih
juara kedua dan aulia (murid baru disekolaannya icha’) yang mendapatkan juara
pertama. Ibumu langsung marah dan menganjurkan si icha’ untuk pindah sekolah
saja namun icha’ dengan tegasnya menolak karena sekolah yang dimaksud lumayan
jauh”.
Asal tahu saja selama ini sebelum kedatangan murid
baru itu, icha’ selalu mendapatkan peringkat pertama. Dan ibuku sebagai seorang
ibu yang polos yang tak ingin anaknya dinomor duakan merasa tak adil dengan
hasil yang diterimah anaknya, apalagi ibuku berfikiran kalau “sang murid baru”
mendapatkan peringkat pertama karena tak lepas dari ibunya yang adalah seorang
guru disekolahan tsb.
Akupun mengetahui kejadian itu, langsung meraih
Handphoneku dan segera menghubungi ayahku lewat saluran telepon.
Dalam perbincangan singkat itu, aku mengatakan
kepada ayahku untuk jangan memarahi icha’ hanya karena ia tak bisa memperoleh apa
yang kedua orangtuaku inginkan, jangan mengatakan kata” yang dapat menyakiti
hatinya, jangan sampai ia tertekan dan berniat untuk berhenti sekolah.
Karena
diusianya yang baru 9th itu dia masih terlalu kecil untuk merasakan
hal – hal yang terlalu dipaksakan.
Karena bagiku icha’ kecil, bukanlah anak yang tidak
pintar. Jika dibandingkan denganku, aku merasa dialah yang lebih mampu,
bagaimana tidak selama ini meskipun ia jarang belajar tapi ia selalu
mendapatkan prestasi yang membanggakan. Sedangkan aku waktu masih seusianya
harus belajar mati-matian siang dan malam untuk bisa mendapatkan juara agar dapat
menyenangkan kedua orangtuaku.
Melihat icha’ yang sekarang aku jadi teringat
kembali 10th yang lalu ketika
aku masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Aku sigadis kecil mungil yang cerewet
dan bawel yang selalu berangkat kesekolah setiap harinya dengan penuh semangat.
Setiap tahunnya aku selalu mendapatkan peringkat
pertama. Kedua orangtuakupun sangat bangga terhadapku terutama ibuku. Hingga
tahun – demi tahun aku lalui disekolah dengan begitu seriusnya belajar dengan
keras hanya untuk mendapatkan predikat juara yang sebenarnya aku tak mengerti
untuk apa aku memperolehnya.
Motivasi aku saat itu adalah karena aku terlalu
senang dengan pujian – pujian yang dilontarkan oleh orang – orang terhadapku. Dan hadiah – hadiah yang diberikan sebagai
ucapan selamat untukku.
Ada juga temanku yang mengatakan kalau pada saat
ibunya marah, ibunya selalu mebandingkan dia denganku. Kata ibunya dia anak
yang tak bisa dibanggakan coba saja kalau dia bisa mencontoh apa yang aku
lakukan dan menyenangkan kedua orantuanya.
Di satu sisi aku senang karena aku dijadikan contoh
yang baik, namun disisi yang lain aku merasa bersalah karena keberadaanku
seperti beban untuk teman – temanku yang lain.
Saat itu aku juga hampir kehilangan waktu – waktu
bermainku untuk menghafal pelajaran” yang aku dapatkan disekolah. Setiap ujian
datang, aku harus bangun pagi – pagi sekali untuk belajar dalam keadaan mata
yang mengantuk, sungguh terkadang itu bukan menjadi suatu kesenangan lagi
untukku melainkan beban rutin yang harus aku kerjakan.
Dan aku tak mau icha’ mengalami hal – hal yang
demikian..
Aku ingin dia menjadi dirinya sendiri…
Dirinya yang berbeda diusianya yang masih sangat
mudah…
Biarkan dia meraih prestasinya dengan cara yang ia
punya…
Biarkan dia
menjadikan hidupnya menyenangkan tanpa tekanan..
Icha’ ku yang baik hatinya, teruslah belajar dengan
caramu,,
Teruslah berprestasi dan berinovasi …
Jangan hiraukan cara berfikir orang kebanyakan..
Jangan mau hanya menjadi murid buku, meghafal tanpa
memahami, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang sempurna dan
prestasi yang sesungguhnya bukanlah yang utama.
Icha’ jika kau ingin teriak, teriaklah.
Jika kau ingin berlari, larilah.
Ciptakanlah suasana yang nyaman, yang tentram, yang
menyenangkan…
Dan jangan lupa untuk memanjatkan do’a dan syukur
kepada Allah SWT..
Semangat dan teruslah semangat (^O^)/


0 komentar:
Posting Komentar