Aku merasa bodoh ketika memikirkannya. Bagaimana
mungkin aku selalu menyebut namanya setiap ku terbangun dari tidurku, selalu
mengingatnya sebelum aku memejamkan mata, dan bahkan aku ingin dia datang dalam
mimpiku yang indah.
Sungguh aku merasa sesuatu ada yang salah, entah itu
rasa atau apapunlah namanya. Aku sungguh sulit membedakan mana yang namanya
cinta, mana yang namanya suka, mana yang namanya kagum atau bahkan hanya
sebatas simpatik saja.
Setiap kali dia memanggilku dengan sebutan yang
sebenarnya tak cukup enak untuk di dengar (namun dengan nada candaan),
sebenarnya aku marah dengan pemberian nama itu tapi, entah kenapa saat dia yang
mengucapkannya aku merasa aku adalah orang special dan orang yang paling rela
untuk dipanggil dengan sebutan apa saja asal dia orangnya.
Saat ku tahu dia tak begitu jauh dari tempatku, aku
sengaja melakukan hal – hal yang dapat menarik perhatiannya bahkan meskipun itu
hal terbodoh sekalipun.
Pernah sekali saat aku sedang bersikap iseng terhadap
salah seorang teman dia dengan mudahnya mengatakan, “Kamu, sebenarnya cantik,
tapi sayangnya aneh” ..!!
(sungguh dia tak tahu, kalau aku ngelakuin itu semata – mata hanya untuk menarik perhatiannya)
(sungguh dia tak tahu, kalau aku ngelakuin itu semata – mata hanya untuk menarik perhatiannya)
Dan dari situ aku langsung menarik kesimpulan
kalau dia sama sekali gag tertarik
dengan cewe’ yang kaku, aneh, jutek, kadang – kadang cerewet, dan super gag
banget kayak aku. akhirnya belakangan aku tahu ternyata tipe cewe’nya itu :
Berjilbab (ia deh aku ngaku tereliminasi di bagian ini), Kalem/gag banyak omong
(sebenarnya aslinya aku emang pendiam banget, tapi karena kamu aku rela berubah
supaya kamu tertarik egh alih – alih tertarik Ilfeel iya..!), Pintar (apanya
dulu ? kalau masak aku baru belajar sich, kalau nyuci itu kehlianku, kalau
makan itu bakatku, kalau nyanyi itu kelemahanku nari apalagi, tapi tenang aku
cukup pintar dalam mata pelajaran).
Sekarang aku bingung harus gimana, dia terlanjur
menjudge aku dengan seenak jidatnya.
Mendekatinya untuk kedua kalinya?? Ku rasa cukup tak
lagi. (aku gag punya wajah cadangan atau topeng kepalsuan).
Mungkin diam adalah yang terbaik. Introspeksi diri
juga perlu, kali aja aku memang gag selayaknya bersama orang yang terlanjur baik jika dibandingkan dengan pribadiku
sendiri.
Berusaha sudah…hasilnya “Gagal dengan Sukses”
Berdo’a, apalagi… “Tuhan mungkin tidak menakdirkanku
dari tulang rusuknya”
Bercermin itulah hal terakhir yang sedang dan selalu
aku lakukan #Sadness (,_,)/

0 komentar:
Posting Komentar