H-2 Ramadhan…
Marhaban ya Ramadhan, Marhaban ya Ramadhan.
Ramadhan tiba semua bahagia, bulan yang mulia, bulan
yang penuh barokah, bulan yang penuh ampunan di dalamnya “Insya Allah”.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, secepat
jantung yang berdetak.
Kini tinggal mengitung jari lagi untuk memasuki
bulan yang paling dinanti “Bulan Suci Ramadhan”, Bulan yang penuh dengan
kemuliaan. Bulan dimana seluruh umat manusia (muslim) menjalankan Ibadah Puasa,
tak hanya puasa untuk menahan nafsu makan, minum dan nafsu seksual belaka,
melainkan juga puasa untuk menahan amarah / hawa nafsu. Puasa juga melatih kita
untuk membersihkan diri dari dosa – dosa yang selama ini kita tekuni. Puasa
mengajarkan kita untuk disiplin terhadap waktu, waktu yang sengaja atau tidak
telah terbuang dengan sia – sia tanpa beribadah kepada-Nya, puasa mengajarkan
kita untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi orang tak mampu yang bahkan
berhari – hari tak mendapatkan sesuap nasi untuk bertahan hidup dan kemudian
puasa kembali mengingatkan betapa berharganya nikmat yang kita peroleh setelah
berbuka puasa namun seringkali tak kita syukuri. Puasa juga melatih kita untuk
sabar, sabar akan cobaan, sabar akan ujian baik harta wanita dsb. Puasa juga
menggambarkan suatu usaha yang apabila dilaksanakan dengan sungguh – sungguh
maka akan memperoleh nikmat yang sangat besar yaitu hari kemenangan. Dan yang
terpenting adalah bahwa puasa yang dilandasi dengan niat semata – mata hanya
karena dan untuk Allah akan mendekatkan kita kepada-Nya ..Amin.
Siang ini langit masih saja mendung, dengan rintik
hujannya yang slalu datang mengiringi. Bagai hatiku yag sedang menahan rindu
yang tak tebendung lagi yang dengan sedikit air mata yang membasahi, kuusap
dengan penuh rasa sedih.
Aku sungguh sangat merindukan mereka, mereka yang
yang dulu slalu ada bak malaikat yang slalu menjaga dan melindungiku.
Namun kini mereka tlah pergi, pergi untuk selama –
lamanya, pergi untuk menghadap Dia sang pemilik segala – galanya.
1.
Adikku, adik sepupuku yang sangat manis, yang slalu
taat dan patuh kepada kedua orangtuanya, adik yang tak pernah membantah
kakaknya ini dan slalu menyayangi saudara – saudaranya, adik yang tak pernah
menuntut lebih, adik yang meskipun sedang dalam keadaan sakit tetap menjalankan
puasa sampai ia benar – benar tak mampu lagi untuk melakukkannya dan adik yang
Insya Allah akan dibangkitkan bersama orang – orang yang dicintai Allah.
2.
Kakakku, kakak sepupuku yang paling ganteng, yang
banyak wanita terpikat olehnya bahkan aku mengakui bahwa ia begitu tampan dan
juga baik hati. Kakakku yang paling disayang oleh paman dan bibiku, kakakku
yang slalu dimanjakan yang slalu dituruti kemauannya, kakak yang slalu eksis di
dunia maya, kakak yang paling suka telat bangun, kakak yang juga penurut
terhadap kedua orangtuanya juga sangat pendengar terhadap saudara – saudaranya
hingga tak pernah terdengar olehku mereka beraduh mulut dsb. Dan kakak yang
tanpa disadari memiliki begitu banyak teman dari berbagai kalangan dan itu baru
disadari keluarga setelah banyak teman”nya yang datang di pemakamannya dengan
berbagai penyesalan, do’a dan harapan.
Keduanya telah pergi dengan caranya masing – masing,
Adikku pergi, setelah hampir satu bulan menjalani
pengobatan di rumah sakit dengan masih sempat mencium tangan ayahnya yang
begitu setia menemaninya. Dia pergi dengan satu penyesalan karena disaat – saat
terakhirnya tak dapat melihat adik semata wayangnya, yang selalu ia sebut
ketika ia mengelu kepada ibunya. Ia pergi dengan setitik air mata, air mata
karena saking rindunya terhadap adiknya, air mata karena beratnya sakit yang ia
derita, dan Insya Allah air mata bahagia karena akan bertemu sang peilik jagad
raya.
Selang sebulan kemudian di tanggal sama.
Berita dukapun datang dari kakakku, yang juga pergi
menyusul adik sepupuku, mereka seakan telah membuat janji sebelumnya, siapa
sangka pada saat pemakaman adikku, dia masih sempat mengahdirinya namun kini
iapun tak berdaya di pembaringan terakhirnya. Ia pergi dengan keadaan yang
sangat sangat tidak terfikirkan sebelumnya. “Kecelakaan” itulah penyebabnya.
Beberapa jam sebelum kejadian kakakku masih sempat – sempatnya menyiapkan
makanannya dan menggoreng telur kesukaannya. Tak lama kemudian iapun pamit dgn
mengendarai motor yang biasa digunakan ayahnya untuk kekebun (bukan motor
besarnya yang sering ia gunakan kemana – mana). Namun siapa sangka saat
diperjalanan kembali kerumahnya, kakakku mengalami kecelakaan naas itu dan tak ada
saksi mata yang melihat langsung kejadian itu. Beberapa lama setelah itu iapun
dibawah kerumahnya oleh orang orang sekitar, karena kejadian itu hanya berjarak
beberapa jauh dari rumahnya. Kakakku sempat dilarikan ke puskesmas, namun
sayang takdir berkata lain waktunya hanya digoreskan sampai disitu. Paman dan
bibikupun tidak percaya dengan kejadian singkat itu, dan tak heran bibipun
sempat pingsan begitupun dengan kakak – kakanya. Bibiku sangat menyesal karena
ia adalah anak bungsu anak kesayangan mereka yang dengannya mereka bekerja
keras dengannya mereka memperoleh semangat. Namun ia begitu cepat meninggalkan
keluarga tanpa menderita penyakit, tanpa dirawat, tanpa dokter tanpa harus
dilarikan ke rumah sakit. Jangankan sehari untuk merawatnya sejampun tidak dan
itu sangat menyakitkan untuk keluarga besar kami hingga yang tersisa hanya
penyesalan dan kasih sayang yg masih banyak belum tersampaikan untuknya, namun
sungguh kami sadar bahwa kasih sayang Allah lah yang pertama dan paling utama….
Selamat jalan…
Untuk kedua My Best brother ku, dua rindu ini akan
slalu menjadi satu dalam lubuk hatiku yang terdalam..
Menjalankan ibadah puasa tanpa kalian, sungguh tak
pernah terbayangkan olehku..
Belum pernah aku merasakan sebelumnya, kedua senyum
itu, kedua nama itu kini tak lagi bersama fisikku namun akan slalu ada disini
dihati kami “Keluarga” kalian.
Saat ini kami masih harus menjalankan Ibadah puasa
sebaik dan sebisa kami untuk kelak menjadi bekal kami diakhirat nanti.
Dan kini kalian tak perlu berpuasa lagi karena
kalian telah bebas dari puasa dengan segala bentuk cobaanya didunia. Sekarang
dialam yang nun jauh disana kalian
tinggal menunggu hidangan untuk berbuka. Semoga hidangan yang kelak
kalian terimah adalah hidangan yang nikmat yang melebihi hidangan termahal
sekalipun di dunia.
Saat menyongsong hari kemenangan nanti tak ada lagi
baju baru untuk kalian, takkan ada lagi senyum kita yang saling berpapasan, tak
ada lagi tangan yang saling berjabat dan saling memafaatkan…
Namun wahai adik dan kakakku yang selalu hidup di
hati ini..
Ijinkankanlah kami untuk memanjatkan do’a kepada Allah SWT, untuk memberikan kalian kemenangan yang sesungguhnya kemenangan yang takkan pernah ada akhirnya yaitu “Surga” yang mengalir sungai – sungai indah di dalamnya..
Semoga kelak kita akan bertemu ditempat Terindah
itu….
Amin Ya Rabbal Alamin.

0 komentar:
Posting Komentar