Free Dance Cursors at www.totallyfreecursors.com
Aya Kawaii: Ayahku yang selalu ada untukku
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Ayahku yang selalu ada untukku


Kisah seperti ini mungkin sering dialami oleh remaja seusiaku, dimana ketika melihat teman kita memiliki sesuatu yang baru, sesuatu yang bagus, ataupun sesuatu yang kita tidak memilikinya, kita pasti akan mengelu, merengek dan bahkan menangis. Hanya untuk sesuatu yang mungkin sebenarnya tidak kita butuhkan.

Saat kita melihat teman kita berprestasi, kita tak jarang menutupi kekurangan kita dengan menyalahkan orangtua dengan berbagai alasan misalnya, salah sendiri kenapa tidak mendaftarkanku disekolah yang sama dengan si X, atau sebenarnya aku bisa sepintar si A bahkan lebih pintar darinya hanya saja kalian (orangtua), tidak memberikanku pendidikan yang baik, fasilitas yang kurang dan lain sebagainya.

Saat kita merasa teman kita lebih cantik/tampan, tak jarang kita mengeluarkan kata/kalimat yang tak seharusnya diucapkan. Misalnya, coba saja dulu ibu tidak menikah dengan ayah dan memilih pria yang lebih tampan lainnya pasti wajahku takkan sejelek ini.
Saat kita merasa hidup begitu mengecewakan, begitu tidak adil, dimana untuk makan saja susah namun disekeliling kita ada banyak teman yang hidup enak dan serba wah…! Kita pasti berfikiran andai dulu ibu tak cepat – cepat menikah dan memilih laki – laki yang mapan dan berkecukupan pasti sekarang ini hidup kita sudah sangat baik.


Semua orang menginginkan yang terbaik, itulah faktanya.

Namun, tak semua yang kita anggap baik akan membawah kebaikan seperti yang kita harapkan. Misalnya kita ingin memiliki pacar seperti teman kita, agar kita kelihatan lebih baik. Namun pada kenyataanya banyak orang yang dulunya berpasangan memilih untuk putus/cerai karena merasa tersakiti/terkhianati. 

Banyak juga wanita yang ingin kelihatan cantik agar mereka disukai,namun pada umumnya wanita cantik itu akan jadi konsumsi public yang pada akhirnya banyak berujung pada pelecehan, pemanfaatan dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu tak perlu menyalahkan siapapun apalagi orang tua kita dengan berbagai kekurangan yang kita punya, karena merekapun memiliki kekurangan layaknya manusia umumnya.
Aku mengatakan seperti ini, bukan berarti aku tak pernah berbuat demikian terhadap orangtuaku.
Aku adalah anak yang hampir setiap saat selalu mengeluh terhadap orangtua, selalu menyalahkan takdir, dan aku sadar akan hal itu.

Ayahku dapat dikatakan adalah gudang seluruh keluh kesahku (setelah yang diatas). Pasti kalian bertanya – Tanya, “kenapa bukan ibuku?”. Itu karena semenjak aku duduk dibangku SMA ibu sering sakit – sakitan yang tak memungkinkanku untuk mengeluh padanya. Hingga sekarang ibu sudah kembali pulih dari sakitnya aku sudah terlanjur terbiasa menggantungkan semuanya kepada ayah terlebih masalah materi.

Factor lain yang juga memungkinkanku untuk susah berhenti mengeluh adalah karena disini dikota ini, aku tinggal sendiri jauh dari orangtua, jauh dari keluarga dan jauh dari kampung halaman.

Pernah suatu saat ketika aku masih duduk dibangku SMA, aku kehabisan uang bukan karena aku boros, tapi saat itu ada banyak tugas yang tak diperhitungkan sebelumnya. Seperti biasa aku langsung memberi tahukannya kepada ayahku. Keesokan harinya beliaupun datang kekota dengan motor tuanya dan helm usang yang sering iya gunakan. Hanya karena tak ingin melihat putri kesayangannya hidup kekurangan dikota orang.

Pernah juga waktu itu pembagian raport hasil belajar siswa, ayahku datang kese
kolah dengan berpakaian rapi, dan wajah berseri – seri tak sabar ingin melihat nilai yang aku peroleh dari hasil belajarku selama semester itu. Namun hal yang tak terduga terjadi aku mendapatkan nilai yang aku rasa tak sepadan dengan semangat dan usaha belajarku. Secara spontan aku marah, aku ingin berbalik dan meminta nilai yang pantas terhadap guru yang bersangkutan. Aku tidak terimah, apalagi mengingat perjuangan ayahku ketempat ini bukanlah hal yang mudah. Namun sesaat saja suara ayahku menghentikanku, “sudahlah nak, ayah tak kecewa dengan hasil belajarmu ayah sudah cukup bangga dengan semua usahamu. Kalawpun sebenarnya nilaimu seharusnya lebih baik dari yang diberikan oleh gurumu saat ini, anggap saja beliau itu sedikit mengalami kesalahan karena diapun manusia biasa. Dan ingat nilai yang baik bukanlah jaminan segalanya. Apalah artinya nilai 10 bahkan 100 sekalipun jika itu hanyalah coretan semata yang anak kecilpun bisa membuatnya, yang terpenting adalah usaha kamu, dan proses yang kamu lalui, jalanilah semua itu dengan sebaik – baiknya”.

Selang beberapa saat ketika aku baru saja lulus SMA, secara bersamaan ibuku juga masuk rumah sakit karena melahirkan dan malangnya saat itu ibuku masih dalam kondisi sakit. Saat – saat sulit seperti itu aku tak bisa memutuskan apakah aku masih bisa melanjutkan pendidikan diperguruan tinggi ataukah aku dirumah saja membantu usaha kedua orangtuaku. Disatu sisi aku memiliki cita- cita yang dari dulu aku pendam aku ingin menjadi guru bahasa inggris dan kuliah di universitas yang lumayan jauh dari tempat tinggalku, namun disisi lain aku tak mungkin meninggalkan ibu dan ayahku dalam kondisi seperti ini. Dengan sangat terpaksa aku mengatakan kepada ayahku bahwa aku memilih untuk tidak kuliah saja.
 Namun ayahku tak lantas mengiyakannya, sebagai ayah yang baik beliau selalu memperhatikanku dan tahu apa keinginanku. Ayahpun memberi 2 pilihan untukku yang pertama aku bisa kuliah pada saat itu juga asalkan kuliahnya harus dikota ini. Yang kedua aku boleh kuliah ditempat yang aku inginkan asalkan aku harus menunggu sampai ibuku sembuh dulu.
Karena keadaan saat itu mengharuskanku untuk memilih pilihan yang pertama maka itulah alasannya mengapa aku berada ditempat ini sekarang.
Dan aku sangat berterimahkasih pada ayahku, karena ayahlah aku bisa tetap berusaha menggapai cita dan mengejar anganku. 

Namun semuanya tidak selalu berjalan mulus pasti ada saja halangan yang slalu datang. Suatu hari karena saking banyaknya tugas kampus yang menumpuk, masalah yang datang bertubi – tubi entah dari kawan ataupun lawan, dan semakin menipisnya uang simpananku membuat aku semakin frustasi. Lagi – lagi aku sangat sebal dengan orangtuaku terutama ayah, aku langsung saja menelpon ke handphonenya, tanpa terlebih dahulu mendengarkan suaranya aku langsung saja mengoceh sesukakuu. Ayah sungguh tegahnya kalian, apa ayah tak sayang lagi denganku?, disini aku kelaparan, uang gag punya tugas menumpuk, kalaw memang ayah sudah tak bisa lagi menanggung biaya kuliah, kos dan semua kebutuhanku disini lebih baik aku berhenti kuliah saja. Sungguh pada saat itu aku sangat marah hingga tak terasa air matapun jatuh membasahi wajahku.

Tak lama kemudian kudengar suara ayahku, 

Nak. Sebenarnya beberapa hari yang lalu ayah dan ibu bermaksud mengunjungimu, namun sayangnya sekarang ini ayah sedang sakit yang tak memungkinkan untuk bisa bepergian jauh. Sekali lagi ayah minta maaf, dan ayah janji secepatnya akan mengirimkanmu uang untuk memenuhi kebutuhanmu.

Sejenak air mata ku yang tadinya adalah amarah berubah menjadi penyesalan yang teramat dalam, yang menjadikanku merasa kecil dan malu akan diriku sendiri. Betapa egoisnya aku yang tanpa menanyakan kabarnya dan langsung mengucapkan kata – kata yang menyakiti hatinya, oh betapa durhakanya aku terhadap ayah yang begitu tulus menyayangiku.

Seketika ketidaksabaranku digantikan dengan rasa bersalah yang teramat dalam, rasa kasihan terhadapnya, disaat ayah membutuhkanku dimana seharusnya aku berada disampingnya, merawatnya atau sekedar menanyakan keadaanya, aku justru menambah rasa sakitnya dengan kata – kata yang tak sehaarusnya keluar dari mulut kotor ini.
Oh. Ayah maafkanlah putrimu ini yang sering melupakan betapa besarnya jasamu untuk hidupku, sungguh aku bukan apa – apa jika tanpamu. 

Dan saat itu aku sangat bersyukur karena tuhan masih memberikan waktu untukku untuk menyadari betapa bernilai dan berharganya kasih sayang dan pengorbanan dari seorang ayah yang selama ini membesarkanku dengan bekerja keras siang dan malam, dan tak terhitung lagi ribuan keringat yang jatuh sebagai bukti bagaimana ia mencari sesuap nasi untukku, ibu dan kedua adikku.

Oh. Ayah Aku hanya bisa berdo’a smoga Allah slalu melindungimu dimanapun engkau berada, smoga setiap usiamu diridhoi oleh yang maha kuasa, dan semoga engkau selalu dan tetap menjadi yang terbaik untuk keluarga.

Suatu hari nanti aku ingin membahagiakanmu, aku ingin melihat tiap tetes keringatmu berubah menjadi air mata bahagia keluarga kita. Aku ingin melihat senyum bahagia dari ibu dan ayah yang hanya ditujukan untukku, sungguh itu adalah hal teindah yang tak ternilai harganya.

Do’a kanlah agar anakmu ini selalu berada dalam jalan yang benar, seperti apa yang engkau ajarkan selama ini kepadaku dan kedua adikku. ^_^

Dunia memang memiliki begitu banyak keajaiban. Disaat kita memiliki seratus alasan untuk mengeluh yakinlah bahwa kita masih memiliki banyak hal yang belum sempat kita syukuri karena terlalu memfokuskan sesuatu yang tidak seharusnya kita keluhkan.
Bersyukurlah karena kita masih memiliki ayah yang begitu sayang terhadap kita,
Ibu yang slalu tulus merawat dan mendampingi kita dan keluarga yang slalu ada untuk memberikan dukungan dan membuka tangannya lebar – lebar untuk memeluk kita saat kita bersedih.

Betapa banyak saudara kita yang sudah tak memiliki orangtua lagi namun mereka masih tetap bisa bersyukur, mendo’akan dan bahkan begitu setia mengunjungi makam orangtua mereka.

Lalu bagaimana dengan kita?

Masihkah kita akan tetap mengeluh dan mengeluh sampai kita kehilangan apa yang seharusnya kita syukuri? Semoga tidak !.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar