Kisah seperti ini mungkin sering
dialami oleh remaja seusiaku, dimana ketika melihat teman kita memiliki sesuatu
yang baru, sesuatu yang bagus, ataupun sesuatu yang kita tidak memilikinya,
kita pasti akan mengelu, merengek dan bahkan menangis. Hanya untuk sesuatu yang
mungkin sebenarnya tidak kita butuhkan.
Saat kita melihat teman kita
berprestasi, kita tak jarang menutupi kekurangan kita dengan menyalahkan
orangtua dengan berbagai alasan misalnya, salah sendiri kenapa tidak
mendaftarkanku disekolah yang sama dengan si X, atau sebenarnya aku bisa
sepintar si A bahkan lebih pintar darinya hanya saja kalian (orangtua), tidak
memberikanku pendidikan yang baik, fasilitas yang kurang dan lain sebagainya.
Saat kita merasa teman kita lebih
cantik/tampan, tak jarang kita mengeluarkan kata/kalimat yang tak seharusnya
diucapkan. Misalnya, coba saja dulu ibu tidak menikah dengan ayah dan memilih
pria yang lebih tampan lainnya pasti wajahku takkan sejelek ini.
Saat kita merasa hidup begitu
mengecewakan, begitu tidak adil, dimana untuk makan saja susah namun
disekeliling kita ada banyak teman yang hidup enak dan serba wah…! Kita pasti
berfikiran andai dulu ibu tak cepat – cepat menikah dan memilih laki – laki
yang mapan dan berkecukupan pasti sekarang ini hidup kita sudah sangat baik.
Semua orang menginginkan yang
terbaik, itulah faktanya.
Namun, tak semua yang kita anggap
baik akan membawah kebaikan seperti yang kita harapkan. Misalnya kita ingin
memiliki pacar seperti teman kita, agar kita kelihatan lebih baik. Namun pada
kenyataanya banyak orang yang dulunya berpasangan memilih untuk putus/cerai
karena merasa tersakiti/terkhianati.
Banyak juga wanita yang ingin
kelihatan cantik agar mereka disukai,namun pada umumnya wanita cantik itu akan
jadi konsumsi public yang pada akhirnya banyak berujung pada pelecehan,
pemanfaatan dan lain sebagainya.
Oleh sebab itu tak perlu
menyalahkan siapapun apalagi orang tua kita dengan berbagai kekurangan yang
kita punya, karena merekapun memiliki kekurangan layaknya manusia umumnya.
Aku mengatakan seperti ini, bukan
berarti aku tak pernah berbuat demikian terhadap orangtuaku.
Aku adalah anak yang hampir
setiap saat selalu mengeluh terhadap orangtua, selalu menyalahkan takdir, dan
aku sadar akan hal itu.
Ayahku dapat dikatakan adalah
gudang seluruh keluh kesahku (setelah yang diatas). Pasti kalian bertanya –
Tanya, “kenapa bukan ibuku?”. Itu karena semenjak aku duduk dibangku SMA ibu
sering sakit – sakitan yang tak memungkinkanku untuk mengeluh padanya. Hingga
sekarang ibu sudah kembali pulih dari sakitnya aku sudah terlanjur terbiasa
menggantungkan semuanya kepada ayah terlebih masalah materi.
Factor lain yang juga
memungkinkanku untuk susah berhenti mengeluh adalah karena disini dikota ini,
aku tinggal sendiri jauh dari orangtua, jauh dari keluarga dan jauh dari kampung
halaman.
Pernah suatu saat ketika aku
masih duduk dibangku SMA, aku kehabisan uang bukan karena aku boros, tapi saat
itu ada banyak tugas yang tak diperhitungkan sebelumnya. Seperti biasa aku
langsung memberi tahukannya kepada ayahku. Keesokan harinya beliaupun datang
kekota dengan motor tuanya dan helm usang yang sering iya gunakan. Hanya karena
tak ingin melihat putri kesayangannya hidup kekurangan dikota orang.
Pernah juga waktu itu pembagian
raport hasil belajar siswa, ayahku datang kese
kolah dengan berpakaian rapi, dan
wajah berseri – seri tak sabar ingin melihat nilai yang aku peroleh dari hasil
belajarku selama semester itu. Namun hal yang tak terduga terjadi aku
mendapatkan nilai yang aku rasa tak sepadan dengan semangat dan usaha
belajarku. Secara spontan aku marah, aku ingin berbalik dan meminta nilai yang
pantas terhadap guru yang bersangkutan. Aku tidak terimah, apalagi mengingat
perjuangan ayahku ketempat ini bukanlah hal yang mudah. Namun sesaat saja suara
ayahku menghentikanku, “sudahlah nak, ayah tak kecewa dengan hasil belajarmu
ayah sudah cukup bangga dengan semua usahamu. Kalawpun sebenarnya nilaimu
seharusnya lebih baik dari yang diberikan oleh gurumu saat ini, anggap saja beliau
itu sedikit mengalami kesalahan karena diapun manusia biasa. Dan ingat nilai
yang baik bukanlah jaminan segalanya. Apalah artinya nilai 10 bahkan 100
sekalipun jika itu hanyalah coretan semata yang anak kecilpun bisa membuatnya,
yang terpenting adalah usaha kamu, dan proses yang kamu lalui, jalanilah semua
itu dengan sebaik – baiknya”.
Selang beberapa saat ketika aku
baru saja lulus SMA, secara bersamaan ibuku juga masuk rumah sakit karena
melahirkan dan malangnya saat itu ibuku masih dalam kondisi sakit. Saat – saat
sulit seperti itu aku tak bisa memutuskan apakah aku masih bisa melanjutkan
pendidikan diperguruan tinggi ataukah aku dirumah saja membantu usaha kedua
orangtuaku. Disatu sisi aku memiliki cita- cita yang dari dulu aku pendam aku
ingin menjadi guru bahasa inggris dan kuliah di universitas yang lumayan jauh
dari tempat tinggalku, namun disisi lain aku tak mungkin meninggalkan ibu dan
ayahku dalam kondisi seperti ini. Dengan sangat terpaksa aku mengatakan kepada
ayahku bahwa aku memilih untuk tidak kuliah saja.
Namun ayahku tak lantas mengiyakannya, sebagai
ayah yang baik beliau selalu memperhatikanku dan tahu apa keinginanku. Ayahpun
memberi 2 pilihan untukku yang pertama aku bisa kuliah pada saat itu juga
asalkan kuliahnya harus dikota ini. Yang kedua aku boleh kuliah ditempat yang
aku inginkan asalkan aku harus menunggu sampai ibuku sembuh dulu.
Karena keadaan saat itu
mengharuskanku untuk memilih pilihan yang pertama maka itulah alasannya mengapa
aku berada ditempat ini sekarang.
Dan aku sangat berterimahkasih
pada ayahku, karena ayahlah aku bisa tetap berusaha menggapai cita dan mengejar
anganku.
Namun semuanya tidak selalu
berjalan mulus pasti ada saja halangan yang slalu datang. Suatu hari karena
saking banyaknya tugas kampus yang menumpuk, masalah yang datang bertubi – tubi
entah dari kawan ataupun lawan, dan semakin menipisnya uang simpananku membuat
aku semakin frustasi. Lagi – lagi aku sangat sebal dengan orangtuaku terutama
ayah, aku langsung saja menelpon ke handphonenya, tanpa terlebih dahulu
mendengarkan suaranya aku langsung saja mengoceh sesukakuu. Ayah sungguh
tegahnya kalian, apa ayah tak sayang lagi denganku?, disini aku kelaparan, uang
gag punya tugas menumpuk, kalaw memang ayah sudah tak bisa lagi menanggung
biaya kuliah, kos dan semua kebutuhanku disini lebih baik aku berhenti kuliah
saja. Sungguh pada saat itu aku sangat marah hingga tak terasa air matapun
jatuh membasahi wajahku.
Tak lama kemudian kudengar suara
ayahku,
Nak. Sebenarnya beberapa hari
yang lalu ayah dan ibu bermaksud mengunjungimu, namun sayangnya sekarang ini
ayah sedang sakit yang tak memungkinkan untuk bisa bepergian jauh. Sekali lagi
ayah minta maaf, dan ayah janji secepatnya akan mengirimkanmu uang untuk
memenuhi kebutuhanmu.
Sejenak air mata ku yang tadinya
adalah amarah berubah menjadi penyesalan yang teramat dalam, yang menjadikanku
merasa kecil dan malu akan diriku sendiri. Betapa egoisnya aku yang tanpa
menanyakan kabarnya dan langsung mengucapkan kata – kata yang menyakiti
hatinya, oh betapa durhakanya aku terhadap ayah yang begitu tulus menyayangiku.
Seketika ketidaksabaranku
digantikan dengan rasa bersalah yang teramat dalam, rasa kasihan terhadapnya,
disaat ayah membutuhkanku dimana seharusnya aku berada disampingnya, merawatnya
atau sekedar menanyakan keadaanya, aku justru menambah rasa sakitnya dengan
kata – kata yang tak sehaarusnya keluar dari mulut kotor ini.
Oh. Ayah maafkanlah putrimu ini
yang sering melupakan betapa besarnya jasamu untuk hidupku, sungguh aku bukan
apa – apa jika tanpamu.
Dan saat itu aku sangat bersyukur
karena tuhan masih memberikan waktu untukku untuk menyadari betapa bernilai dan
berharganya kasih sayang dan pengorbanan dari seorang ayah yang selama ini
membesarkanku dengan bekerja keras siang dan malam, dan tak terhitung lagi
ribuan keringat yang jatuh sebagai bukti bagaimana ia mencari sesuap nasi
untukku, ibu dan kedua adikku.
Oh. Ayah Aku hanya bisa berdo’a
smoga Allah slalu melindungimu dimanapun engkau berada, smoga setiap usiamu
diridhoi oleh yang maha kuasa, dan semoga engkau selalu dan tetap menjadi yang
terbaik untuk keluarga.
Suatu hari nanti aku ingin
membahagiakanmu, aku ingin melihat tiap tetes keringatmu berubah menjadi air
mata bahagia keluarga kita. Aku ingin melihat senyum bahagia dari ibu dan ayah
yang hanya ditujukan untukku, sungguh itu adalah hal teindah yang tak ternilai
harganya.
Do’a kanlah agar anakmu ini
selalu berada dalam jalan yang benar, seperti apa yang engkau ajarkan selama
ini kepadaku dan kedua adikku. ^_^
Dunia memang memiliki begitu banyak keajaiban. Disaat kita
memiliki seratus alasan untuk mengeluh yakinlah bahwa kita masih memiliki
banyak hal yang belum sempat kita syukuri karena terlalu memfokuskan sesuatu
yang tidak seharusnya kita keluhkan.
Bersyukurlah karena kita masih memiliki ayah yang begitu
sayang terhadap kita,
Ibu yang slalu tulus merawat dan mendampingi kita dan keluarga yang slalu ada untuk memberikan dukungan dan membuka tangannya lebar – lebar untuk memeluk kita saat kita bersedih.
Ibu yang slalu tulus merawat dan mendampingi kita dan keluarga yang slalu ada untuk memberikan dukungan dan membuka tangannya lebar – lebar untuk memeluk kita saat kita bersedih.
Betapa banyak saudara kita yang sudah tak memiliki orangtua
lagi namun mereka masih tetap bisa bersyukur, mendo’akan dan bahkan begitu
setia mengunjungi makam orangtua mereka.
Lalu bagaimana dengan kita?
Masihkah kita akan tetap mengeluh dan mengeluh sampai kita
kehilangan apa yang seharusnya kita syukuri? Semoga tidak !.

0 komentar:
Posting Komentar