Siang ini tiba – tiba saja mendung, Mentari yang
tadinya cerah kini tak lagi menampakkan dirinya hilang mungkin tertutupi oleh
awan hitam. Tak lama kemudian Hujanpun turun membasahi apa yang terlewati
olehnya. Dedaunan yang tadinya kusam karena abu jalanan, rerumputan yang kotor
karena pijakkan, dan pepohonan yang kehausan seakan melambai – lambaikan
tangannya karena gembira akan kedatangan sang pujaan siapa lagi kalau bukan sang
“Mr.Rain”.
Namun tak demikian dengan seorang gadis yang sedang
duduk manis menikmati rintik hujan yang jatuh dibawah atap rumahnya (kosan). Ia
tak melihat bahwa hujan sedang mengantarkan kebahagiaan untuknya. Ia justru
merasa bahwa turunnya hujan disiang hari yang tadinya cerah mewakili air
matanya yang ingin sekali ia curahkan namun sayang ia tak cukup memiliki alasan
untuk melakukannya.
Genangan air hujanpun seakan mengajaknya untuk
berkaca pada kehidupannya yang terasa tenang namun tepatnya lebih pada
“Kesepian”. Setiap hari yang ia lalui terasa begitu – begitu saja tanpa
perubahan , siklus hidup yang sepertinya mulus – mulus saja tapi justru malah
membosankan.
Hari minggu sepeti ini, bagi orang – orang
kebanyakan adalah hari yang paling dinantikan, entah untuk berekreasi,
menghabiskan waktu dengan keluarga atau sekedar meluangkan waktu untuk
istirahat. Namun berbeda dengan gadis itu ia merasa sangat kesepian tak seorangpun
yang mengajaknya jalan atau menemaninya dihari yang yang terlanjur dicap
sebagai “Hari libur seantero Jagad” itu. Menghabiskan waktu dengan keluarga
juga tak mungkin karena jarak yang tak mengijinkan. “Istirahat” kata itu memang
terdengar asyik, menyenangkan dan sangat dinantikan oleh orang – orang yang
sudah bekerja keras seharian, berminggu – miggu bahkan berbulan – bulan. Namun
itu tidak berlaku untuknya bagaimana mungkin seorang yang sehari – harinya
menghabiskan hampir seluruh waktunya dikamar, masih saja menantikan hari untuk
istirahat padahal itulah pekerjaannya, justru yang ia harapkan adalah bekerja,
jalan – jalan atau semacamnya untuk melepas kebosanan yang selalu datang
menemani kesendiriannya.
Didalam lamunannya gadis itupun sadar bahwa ternyata
selama ini ia tak memiliki teman yang cukup dekat dengannya, ia tak memiliki
seorang sahabat yang bisa berbagi suka dan duka dengannya, ia tak memilki
sahabat yang bisa mendengarkan keluh-kesahnya.
Hingga segala sesuatunya harus ia perbincangkan
dengan sendirinya. Dia yang bertanya dan harus pula ia yang menjawab. Sungguh
malang nasib gadis itu.
Di kampus tempat ia kuliah bukannya ia tak memiliki
teman sama sekali. Justru orang – orang menilainya memiliki banyak teman karena
ia terlihat mudah untuk bergaul dan tak memilah ataupun memilih teman.
Saat sedang berjalan ke suatu tempatpun, jika
bertemu dengan teman – teman semasa SMA nya ia tak segan untuk menyapa dan
begitupun sebaliknya. Semuanya terlihat tak ada yang salah dan biasa – biasa
saja.
Tapi tak ada yang tahu kalau gadis itu sangat tidak
suka dengan sabtu minggu dan hari libur lainnya.
Alasannya simple saja karena
ia tak ingin sendiri, di kampus ia dengan mudahnya bisa bergaul dengan siapa
saja, meskipun selama SD-Kuliah dalam sejarahnya tak pernah tercatat memiliki
“team, CS, Komunitas, Geng / atau semacamnya yang menandakan ikatan tertentu.”
Ia merasa gerak – geriknya dibatasi jika bergabung dengan Geng” tertentu. Ia
seperti burung yang tak ingin dibatasi oleh sangkarnya, yang seenaknya hinggap
dipohon manapun yang ia suka.
Dan kini ia sadar mungkin kesalahan kecilnya berawal
dari situ. Coba saja kalau ia tak terlanjur berpandangan negative terhadap
teman – temannya yang suka membentuk geng” tertentu misalnya “Girl’s bla..bla..”,
“best friend for..” De el el…

